PENGALAMAN BEKERJA HANYA 10 HARI



Sambil mengisi waktu luang menunggu panggilan intervew tiba-tiba ingin menulis pengalaman bekerja hanya 10 hari. Menurut saya ini merupakan pengalaman yang kurang baik dan agak memalukan, namanya juga pengalaman hidup, siapa yang bisa menduga. Sebetulnya banyak di luar sana pengalaman orang-orang yang bekerja hanya bisa bertahan dalam hitungan hari atau bahkan jam. Mungkin permasalahan utama karena kurang cocok dengan jenis pekerjaan atau lingkungan pekerjaannya.

Pekerjaan ini saya dapatkan dari informasi lowongan kerja di media sosial Instagram. Saat itu perusahaan yang bergerak di bidang ayam petelur sedang mencari Mandor Gudang Pakan. Perusahaan berada di Yogyakarta, lebih tepatnya berada di Cangkringan, Sleman. Setelah saya resign lima bulan yang lalu dari perusahaan lama, saya tak kunjung memperoleh pekerjaan. Beberapa kali saya interview di berbagai perusahaan, sudah sekitar 10 kali interview yang saya jalani, belum ada satu pun lowongan yang bisa saya tembus.

Frustasi memang, tetapi saya pantang menyerah, terus mencari. Hingga suatu sore, ada pesan masuk di Whatsapp dan ternyata dari pemilik perusahaan ayam petelur yang berada di Jogja, bahkan saya hampir lupa kalau pernah memasukkan lamaran karena saking lamanya. Pesan tersebut berisikan bahwa perusahaan sedang mencari mandor gudang, dan telah melihat lamaran saya serta ingin mengundang saya untuk interview.

Di dalam pesan tersebut, pemilik juga menjelaskan bagaimana gambaran ringkas mengenai pekerjaan mandor gudang pakan, dan menjelaskan fasilitas di dalam lingkungan kerja yang seadanya. Tidur di tempat yang seadanya, serta diberi makan tiga kali sehari. Saya langsung mengiyakan dan tertarik dengan posisi tersebut kemudian menanyakan kapan bisa interview. Setelah ditentukan tanggalnya, saya pun berangkat ke kantor yang berada di daerah pasar Kranggan, Jogja.

Saya bertemu dengan pemilik usaha dan dijelaskan mengenai bagaimana nanti pekerjaan sebagai mandor gudang pakan. Beliau juga menjelaskan fasilitas dan gaji yang ditawarkan. Karena saya memang sedang ingin cepat memperoleh pekerjaan dan berbekal pengalaman sebagai admin logistik, saya menyambut positif tawaran beliau. Memang terasa agak aneh betapa mudah sekali proses wawancaranya, sedangkan proses yang sudah-sudah harus psikotest dahulu, tes hitungan, lalu wawancara yang tidak hanya sekali. Ya sudah lah mungkin perusahaan memang sedang sangat butuh. Kemudian saya pulang dan menunggu informasi selanjutnya.

Keesokan harinya, saya kembali dikirimi pesan whatsapp untuk dikonfirmasi apakah saya sudah memikirkan dengan matang tawaran sebagai mandor gudang. Saya langsung jawab saya siap. Saya diharuskan untuk membuat SKCK sebagai syarat bekerja. Perasaan saya senang dan girang karena akhirnya saya mendapatkan pekerjaan. 

Sialnya, saya tidak bisa membuat SKCK karena Polres Wonosobo sedang tidak melayani pembuatan SKCK akibat wabah Corona. Saya jadi kesal saat itu dan mengutuk Corona. Saya langsung memberitahu pemilik perusahaan terkait SKCK tersebut, dan beliau menyuruh saya untuk menunggu dahulu dan menunda kapan saya bisa mulai bekerja akibat pandemi ini.

Baiklah, kutunggu beberapa hari, dan jujur saya merasa gelisah akan ketidakpastian ini. Kapan corona akan berakhir tidak ada yang tahu. Empat hari kemudian, saya coba iseng-iseng menanyakan kembali kapan saya bisa mulai bekerja. Lalu saya ditelpon untuk memastikan apakah saya benar-benar siap untuk bekerja sebagai mandor gudang pakan. Lalu beliau juga menjelaskan tahapan kerja di sana yang meliputi  dua minggu awal masa percobaan, dilanjutkan tiga bulan pekerjaan, baru kontrak kerja selama setahun. Gaji selama masa percobaan diberikan 80% dari gaji utuhnya. Perusahaan tidak menahan ijazah namun sebaga gantinya jika saya keluar dalam masa kontrak satu tahun, maka saya wajib denda satu kali gaji. Untuk masa percobaan, tidak ada perjanjian kontrak. 

Lagi-lagi karena saya sedang ingin cepat bekerja, saya iyakan dan siap dengan peraturan yang disampaikan. Akhirnya saya bisa mulai bekerja hari Senin tanpa harus membawa SKCK. Entah kenapa malam sebelum saya berangkat ke Jogja, saya merasa tidak begitu semangat dan malas untuk menyiapkan pakaian. Dalam hati, apakah ini benar-benar yang saya inginkan? Keinginan untuk segera bekerja memang lebih besar saat itu.

Senin pagi saya bersiap dan berangkat pukul 06 pagi. Siapa sangka di tengah perjalanan, hujan sangat deras sepanjang jalan raya Kepil-Salaman-Borobudur. Semoga baik baik saja , dalam hati saya berdoa. Saya pun sampai di kantor, lalu menemui pemilik perusahaan untuk dibawakan surat pengantar dan alamat farm di daerah Cangkringan. 

Tidak sulit untuk menemukan lokasi farm yang berada di pinggir jalan desa. Saya bertemu dengan manajer farm dan langsung ditunjukkan lokasi mess untuk saya. Bagi saya yang pertama kali masuk di area farm ayam petelur, memang situasinya sangat sangat sederhana, kandang ayam masih tergolong tradisional. Ketika melihat kamarnya, saya sedikit kaget karena memang benar benar seadanya, dan banyak kotoran, seperti sudah lama tidak ditempati.

Saya mulai bersihkan kamarnya, kasurnya, setidaknya supaya agak sedikit nyaman ditempati. Jujur saat itu saya berpikir apakah saya bisa betah di sini. Setelah sedikit membereskan kamar yang belum sepenuhnya bersih, saya menuju gudang pakan yang hanya berjarak 15 meter dari kamar. Di sana sedang berjalan aktivitas mencampur pakan. Saya berkenalan dengan tenaga-tenaga gudang, dan juga mandor gudang yang nantinya akan saya gantikan. 

Di gudang pakan tersebut terdapat tumpukan pakan konsentrat, jagung, katul, dan pakan jadi ayam petelur. Kemudian untuk peralatannya ada 2 buah mixer pakan, penggiling jagung, gudang jenset dan diesel. Setiap hari dilakukan proses mixing pakan berdasarkan formulasi yang telah ditentukan.  Minggu pertama saya belajar mengenai proses administrasi dahulu. Di sana sistem pencatatan masih dilakukan secara manual, ditulis di dalam buku. Dan overall menurut saya tidak terlalu sulit proses administrasinya hanya butuh ketelitian dalam menghitung stok, karena lumayan banyak juga itemnya.
Tiga hari pertama saya masih kurang bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan, benar-benar pekerjaan kasar, dan posisi mandor gudang tidak hanya mengurus administrasi, tetapi mengawasi tenaga gudang dari proses persiapan mixing, penimbangan dan pengiriman. Mandor gudang juga bertugas menyiapkan premix ketika pencampuran pakan berlangsung. Sebelum diberikan, premix dicampur dahulu dengan katul supaya tidak menggumpal dan bisa menyebar saat dimixing. 

Benar-benar melelahkan, dalam sehari, mixing bisa dilakukan selama delapan kali, karena kapasitas mixer yang hanya 500 dan 1000 kg, sedangkan sekali pencampuran pakan untuk satu Flok membutuhkan 1000 hingga 1500 kg pakan yang dilakukan dalam dua kali proses mixing. Ketika mandor sedang tidak ada kerjaan, terkadang juga ikut membantu tenaga gudang untuk mengangkat pakan yang akan dikirim. Saya cukup kelelahan karena tidak terbiasa bekerja secara fisik.

Pernah ada suatu ketika, mesin jenset mengalami trouble sehingga mixer tidak dapat digunakan untuk mencampur pakan, alhasil dilakukan pencampuran pakan secara manual. Dengan mengunakan lantai gudang, jagung, konsentrat, dan katul dicampur menggunakan sekop. Dalam hati ku berkata rekoso sekali mereka, meskipun saya juga tidak ikutan mengaduk pakan, hehe. kenapa jensetnya tidak diganti sekalian yang baru. Menurut penuturan manajer farm, memang jenset rusak sering terjadi, dan sudah komplain ke pemilik perusahaan namun belum ada tindakan, hanya diusahakan untuk diperbaiki saja oleh teknisi hingga saat ini.

Mesin penggilingan jagung juga sering bermasalah, padahal fungsinya sangat vital dalam proses pencampuran pakan, karena kebutuhan akan jagung giling. Manajer farm selalu berkata untuk mengutamakan menggiling jagung untuk persediaan dan persiapan mixing pakan setidaknya selama tiga hari. Jam kerja mulai dari setengah 8 hingga jam 4 sore, tetapi kadang bisa sampai jam lima sore ketika sedang banyak bongkaran. Hal yang paling menyebalkan adalah pintu gerbang gudang yang sangat sulit dibuka dan ditutup. Saya bahkan tidak kuat untuk mendorongnya karena macet, hahaha.

Ketika malam tiba, suasana sangat berbeda, sering terdengar suara burung-burung, tokek, bahkan anjing melolong. Lokasi kamar mandi juga agak jauh, terpaksa saya harus keluar dan jalan kaki melewati gelapnya malam ketika ingin buang air kecil. Kadang saya parno juga harus keluar malam-malam, dingin, tapi ya mau gimana lagi udah kebelet. Wkwkwk

Singkat cerita, saya semakin meragukan untuk melanjutkan masa percobaan ini. Disamping saya selalu kelelahan ketika pulang, ketika bangun pagi dan akan berangkat pun saya juga merasa kurang bersemangat. Bagi saya yang terbiasa bekerja dengan pikiran, dan diharuskan terjun langsung secara fisik, perasaan tidak bersemangat selalu menjangkiti. Dan seakan hari itu ingin cepat berlalu. Ketika sudah berada di mess, rasanya ingin cepat cepat tidur, dan ketika sudah pagi hari rasanya sangat malas untuk mulai beraktivitas. 

Tepat di hari ke 10 masa percobaan, saya putuskan untuk memberitahu pemilik perusahaan bahwa saya tidak cocok untuk berada di posisi ini, dan tidak ingin melanjutkan masa percobaan. Kemudian saya menjelaskan kepada manajer farm, dan alhamdulillah beliau ikut mengerti. Esok harinya, saya berkemas untuk pulang, dan berpamitan kepada para staf yang berada di area farm tersebut. Sedih sih, karena sudah mulai akrab dengan lingkungan dan orang-orang di sana, tetapi perasaaan tidak nyaman akan pekerjaan ini tidak bisa ditahan lebih lama lagi. Malu juga karena kemarin saya yang “ngebet” untuk cepat mulai bekerja, eh malah tidak betah sama pekerjaannya.

Komentar